Menghadang Usia Senja dengan Sepakbola: Max Timisela

vikingpersib.net—Sepak bola Indonesia mengalir deras dalam darah Max Timisela. Legenda sepak bola kelahiran 1944 itu menjadi legenda hidup Persib Bandung dan Timnas Indonesia.

Semasa muda, Maxi dikenal sebagai striker lincah. Kiper dan bek musuh wajib berdoa saat menghadapinya. Selain lincah, Maxi dikenal totalitas. Baginya, sepak bola adalah nafas, adalah hidup.

Catatan Gemilang Timisela

Maxi bukanlah satu-satunya Timisela yang menjadi atlet. Keluarga Timisela sudah mencetak atlet sejak lama. Sebut saja Freddy Timisela, Hengky Timisela, dan Pietje Timisela. Semua pemain itu pernah membela Persib pada rentang 1950-1960-an.

Mengawali karir di UNI, Maxi kemudian membela Persib sejak 1962. Kala itu, ia berusia 18 tahun, cukup belia untuk masuk tim sepak bola. Catatan permainan yang konsisten ditunjukkan Timisela saat ia bermain untuk Persib.

Catatan konsisten itu berbuah panggilan dari Tim Nasional Indoneisa. Maxi dipanggil untuk membela Tim Nasional dalam beberapa ajang seperti Aga Khan Cup, King’s Cup, dan Merdeka Games.

Selain itu, Maxi dipanggil untuk membela Tim Nasional Indonesia dalam rangka tur Eropa pada tahun 1965. Prestasi terbaiknya adalah saat membobol gawang klub raksasa Jerman, Werder Bremen, 14 Juni 1965.

Tak hanya satu gol, Maxi benamkan dua gol dalam laga yang berakhir 5-6 untuk kemenangan Werder Bremen. Tiga gol Tim Nasional Indonesia lainnya dijebloskan kawan Maxi, Soetjipto Soentoro.

Ditawari Membela Werder Bremen

Permainan Maxi yang gemilang dalam laga tersebut membuat manajemen Werder Bremen kepincut. Tawaran untuk pindah ke Jerman pun dilayangkan kepada Max Timisela dan Soetjipto Soentoro.

Tawaran itu membuat Kosasih Poerwanegara kalang kabut. Saat itu di Indonesia, isu tentang pembelotan Dominggus Waweyai ke negeri Belanda masih hangat-hangatnya. Seluruh rakyat kecewa terhadap kejadian itu.

Apa jadinya bila dua punggawa Indonesia lain ikut-ikutan tinggal di luar negeri dan membela tim di sana? Isu itu pun merembet ke ranah politik, sehingga PKI sampai mengultimatum Soekarno agar segera memulangkan Dominggus Waweyai ke tanah air.

Tur Eropa kala itu bukanlah agenda tamasya. Tim Nasional Indonesia diberangkatkan dengan uang rakyat. Saat itu pun kondisi perekonomian Indonesia sedang kacau. Ditambah alasan Maxi dan Soetjipto diperlukan untuk membela Tim Nasional Indonesia di ajang Asian Games dan Ganefo tahun 1966.

Tawaran untuk bermain di Jerman itu pun melibatkan Soekarno untuk memikirkan keputusan. Soekarno memutuskan untuk menolak tawaran itu. Tolakan itu disampaikan oleh Kolonel Gatot Suwagio kepada Herr Brocker.

Alasannya satu: tenaga Maxi dan Soetjipto dibutuhkan Tim Nasional Indonesia untuk Asian Games 1966 di Tokyo. Dua pemain itu tak punya hak bicara. Mereka manut dan pulang ke Indonesia.

Sikap dan Kesederhanaan Maxi

Maxi mengagungkan sepak bola. Di matanya, sepak bola adalah totalitas. Bermain sepak bola di lapangan ibarat perang melawan musuh. Hati dan pikirannya hanya tertuju untuk memberikan kemenangan.

Sikap itu cerminan dari ketulusan hati Maxi. Pemain yang fasih berbahasa Jerman dan Belanda itu digaji Rp. 2000,- semasa membela Persib dan Tim Nasional pada tahun 1976. Saat itu, pendapatan pemain sepak bola belum setinggi hari ini.

Maxi tidak mempermasalahkan gaji. Hatinya terpanggil untuk membela Persib dan Tim Nasional Indonesia. Bahkan sejak kecil ia berlatih sepak bola seorang diri, hingga ia bisa melakukan tendangan salto. Ia dijuluki Pele From Indonesia.

Kesederhanaan Maxi sungguh terpuji. Kini anak-anaknya sudah hidup mapan. Linda Timisela, anak pertamanya, berada di Yunani bekerja di KBRI. Anak keduanya, Inggrid Timisela, tinggal di Bekasi bersama istri Maxi.

Anak-anak Maxi kerap mengajak Maxi untuk tinggal bersama. Tapi Maxi menolak, ia tak ingin menyusahkan anak-anaknya. Ia memilih hidup untuk sepak bola.

Sepakbola terus mengalir dalam darah Maxi. Totalitasnya kepada sepak bola tak hanya melahirkan respect dari orang-orang. Lebih jauh dari itu, ia menjadi legenda, Pele From Indonesia.