Kisah Gemilang Indra Thohir

Nyaris menjadi pemain Persib Bandung pada awal 1960, Indra Thohir memilih untuk masuk IKIP/UPI Bandung. Pilihan itu tidak sepenuhnya salah. Sikapnya realistis, status lulusan SGPD/APD Bandung membuatnya menentukan langkah.

“Jadi mendapat panggilan seleksi sudah menjadi kebanggaan tersendiri,” kenang Indra, “tetapi saya memilih bersikap realistis dengan memilih IKIP Bandung karena saya adalah lulusan SGPD/APD Bandung. Setelah itu, saya fokus menimba ilmu di jurusan kepelatihan serta memperkuat tim kampus yang juga ikut kompetisi internal Persib,” ungkap Indra Thohir.

Usai menimba ilmu di jurusan kepelatihan, ia mendapatkan gelar sarjana muda dan menjadi asisten dosen di UPI. Tak main-main, permulaan karirnya pun cukup gemilang. Indra sempat membantu Tahir Djide, tokoh olahraga Indonesia.

“Pak Tahir juga menjadi pelatih tim kampus. Beliau juga mengajak saya menjadi asistennya.”

Indra mengikuti jejak pendahulunya, Tahir Djide, menjadi pelatih UPI Bandung. Semasa menjadi pelatih, ia berhasil membawa UPI meraih juara kompetisi Persib di awal 1980-an. Prestasi itu disambut baik oleh Marek Janota, yang menawari Indra menjadi asisten pelatih. 

Saat itu Persib sedang berada di masa keemasannya. Tawaran menjadi asisten pelatih adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Tetapi Indra menolaknya. 

“Tapi, saya menolak karena ingin menangani tim sendiri sebagai pelatih bukan sebagai asisten,” ujar Indra.

Di lain sisi, Persib tetap gigih untuk memboyong Indra Thohir. Segala cara telah dilakukan. Upaya terakhir inilah yang membuat Indra tidak bisa menolak. Pada tahun 1984, akhirnya ia masuk ke manajemen Persib Bandung sebagai pelatih fisik. Solihin GP, mantan Gubernur Jawa Barat sekaligus pembina Persib Bandung, adalah tokoh di balik itu semua.

“Beliau meminta mertua untuk membujuk saya agar mau bergabung dengan Persib,” ungkap Indra.

Dua tahun kemudian, Indra berhasil mengantarkan Persib menjadi juara Perserikatan 1986. Gelar yang sangat dinantikan oleh suporter Persib. 

“Saat itu, saya masih jadi pelatih fisik,” terang Indra, “sedang pelatih kepalanya adalah Nandar Iskandar dan Ade Dana sebagai asisten,” lanjutnya.

Di tahun 1991-1992, keinginan Indra berhasil terwujud. Ia ditunjuk menjadi pelatih kepala, setelah sebelumnya menjadi asisten pelatih pada 1989-1990. Dari sinilah karir Indra memuncak. Ia menjadi satu-satunya pelatih Persib Bandung yang meraih trofi juara di era berbeda, yakni Perserikatan 1993-1994 dan Liga Indonesia 1994-1995.

Tak hanya di level nasional, Indra juga mengantar Persib menembus babak 8 Besar Piala Champions 1995. Prestasi yang membuatnya meraih titel “Pelatih Terbaik Asia” pada tahun yang sama.

Kisah gemilang ini hanya seorang Indra Thohir bisa melakukannya. Ialah satu-satunya.