Dadang Hidayat, Sang La Bandiera

Bandiera diambil dari istilah Italia. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seorang pemain yang bermain untuk untuk klub yang sama sepanjang karirnya. Kita lebih mengenalnya sebagai one man one club.

Seorang Bandiera setia dengan warna yang sama, sampai hari di mana pensiun dari sepak bola. Entah seburuk apapun kondisi yang sedang dihadapi klub, atau betapa menggiurkannya tawaran klub lain, Bandiera tetap setia kepada klubnya. Siapa Bandiera yang kita ketahui? Paolo Maldini, Franco Baresi atau Francesco Totti.

Dadang Hidayat adalah satu di antara Bandiera Persib. Dia setia kepada pangeran biru sejak awal sampai akhir karirnya yang puitik. Dadang masuk ke tim utama Persib di usia 23 tahun, dan pensiun satu dekade kemudian. 

Pensiun muda? Betul, dan alasannya untuk pensiun dini inilah yang kita sebut puitik itu, alasan yang bisa kita tilik dari perjalanan awal karirnya.

Besar Dari Liga Persib

Dahi (sapaan Dadang Hidayat) lahir di Bandung, 20 Agustus 1972. Sejak kecil, Dahi sudah menggemari permainan sepak bola. Namun dia baru serius untuk menjadi pemain ketika masuk ke Sekolah Sepak Bola (SBB) Nusa Raya Sports (NRS) pada tahun 1986.

Kesempatan untuk bergabung dengan Persib datang pada musim kompetisi 1991. Akibat persaingan ketat di Persib U-21, Dahi sulit mendapat tempat. Ia memilih bergabung dengan anggota kompetisi internal Persib, PS Pikiran Rakyat.

Di sana Dahi menunjukan perkembangan positif, sampai akhirnya dipromosikan ke tim senior Persib pada musim 1994/1995. Namun di musim pertamanya itu, Dahi tidak sekalipun mendapat kesempatan tampil. Sebab, lini belakang Persib kala itu dihuni oleh para pemain bintang seperti Mulyana, Asep Kustiana, hingga Robby Darwis.

Camat dan 5 Musim Pembelajaran

Di Persib, ada semacam kecenderungan atau tradisi yang biasa dilakukan oleh para pemain mudanya agar bisa mendapatkan tempat di tim utama, yakni pindah dulu ke tim lain untuk mencari pengalaman, dan ketika sudah matang, kembali ke Persib untuk mendapatkan tempat di tim utama. 

Akan tetapi, Dahi memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Dia memutuskan tetap bertahan di Persib, meski jarang mendapatkan kesempatan bermain. 

Dahi tahu bahwa pemain muda minim pengalaman seperti dirinya akan sulit untuk dapat tempat di skuad utama Persib. Bahkan berpotensi menjadi Camat (Cadangan Mati).

Meskipun tak mendapat menit bermain, bagi Dahi, bisa satu tim dengan para pemain besar seperti Robby Darwis dkk. Adalah berkah. Dia dibimbing langsung oleh para bintang.  Sesuatu yang jarang didapatkan oleh pemain-pemain yang hijrah ke klub lain.

Selama lima musim kiprah awalnya bersama Persib, Dahi lebih sering menjadi penghias bangku cadangan. Dahi tidak masalah dengan hal tersebut, dia terus mengembangkan kemampuannya dengan belajar kepada Sutiono Lamso.

Sutiono Lamso adalah penyerang tulen. Dadang belajar kepadanya karena setiap pertandingan Mas Suti selalu berhadapan dengan berbagai bek, ia tahu betul kelemahan dan kekuatan bek-bek Indonesia.

Regenerasi dan Kapten Pangeran Biru

Tepat pada Liga Indonesia V musim 1998/1999. Saat itu, Persib mengganti posisi pelatih dari Suryamin ke Indra Thohir. Dengan keluarnya Robby Darwis, menjadikan Dahi mendapat tempat di tim utama. 

Indra Thohir yang sudah mengetahui potensi luar biasa Dahi langsung menempatkannya sebagai bek inti Maung Bandung. Bukan hanya itu, Indra Thohir pun menunjuk Dahi sebagai kapten, meskipun masih ada pemain senior lainnya di skuad Persib.

Dahi bukan sekedar bek penghalau serangan lawan, tetapi secara gestur dan movement, Dahi adalah cikal bakal bek lengkap yang memiliki passing dan movement dinamis.

Kehadiran Dahi di lini belakang membuat prestasi Persib sedikit demi sedikit mulai kembali meningkat. Hingga pada Liga Indonesia 2001,bersama rekan-rekan muda, Yaris Riyadi, Cecep Supriatna, Sujana mereka melaju ke babak 8 besar di Medan. Namun sayang, mereka tidak lolos ke semifinal. 

Bertarung Keluar Zona Degradasi

Dari 9 musim membela Persib, tahun 2003 dirasakan Dahi merupakan yang paling berat untuk dijalani. Banyak sekali kendala yang harus dihadapi selama liga berjalan hingga nyaris degradasi. 

Pada awal musim, Persib mendatangkan empat pemain asal Polandia, Maciej Dolega, Piotr Orlinski, Mariusz Mucharski, dan Pavel Bocian. Berikut, di posisi pelatih, manajemen Persib merekrut Marek Andrzej Sledzianowski untuk meramu tim.

Pada musim itu putra-putra daerah Persib banyak meninggalkan klub. Imbasnya, Persib berisi pemain-pemain muda yang secara pengalaman belum matang. Dadang tetap membela Persib di saat-saat perih itu. Kekalahan demi kekalahan yang dialami Persib bahkan menyebabkan Persib berada di posisi juru kunci.

Setelah tak mendapat hasil yang memuaskan, Persib akhirnya melakukan perubahan dengan memecat pemain dan pelatih asing. Sebagai gantinya, pelatih asal Chile, Juan Antonio Paez didatangkan. Pemain asing baru seperti Claudio Lizama (Chile), Alejandro Tobar (Chile), Rodrigo Lemunao (Chile) hadir untuk menggantikan kuartet Polandia.

Perubahan itu langsung membawa angin segar bagi Persib yang saat itu sangat terpuruk. Pada babak play off untuk menentukan tim yang terdegradasi, Persib tampil luar biasa dengan mengungguli Persela Lamongan, PSIM Yogyakarta, dan Perseden Denpasar.

Pensiun Dini Demi Masa Depan Persib

Bagi generasi muda, nomor 24 begitu melekat dengan Mas Har, tetapi untuk generasi ini adalah Dadang Hidayat. Dadang memilih nomor ini karena nomor inti sudah terisi semua. 

Dia tidak punya pilihan lain, yang tersisa hanyalah nomor 10 saat itu, nomor yang sangat berat untuk diemban pemain muda, pula tidak cocok untuk dipakai bek tengah.

Dipilihlah nomor 24. Selain unik, nomor itu punya alasan filosofis, seperti Ivan Zamorano yang 1+8 yang ditambahkan akan menjadi nomor striker, maka Dadang Hidayat memilih 2+4 yang akan menjadi nomor 6, nomor sang bintang, Robby Darwis.

Dadang Hidayat sadar bahwa memang butuh waktu yang panjang untuk bisa menempati pos sang bintang, hal yang tidak mudah. Dadang dalam perjalanannya pun menyadari bahwa saat Persib terpuruk disebabkan regenerasi yang prematur dan tiba-tiba. Itulah yang membulatkan sikapnya tentang regenerasi pemain Persib.

Dadang Hidayat pensiun dini di usia 33 tahun. Sempat banyak tawaran dari klub-klub Indonesia, dia tidak menerimanya. Sejak kecil cita-citanya adalah bermain di Persib. Dan hanyalah Persib satu-satunya. Dadang Hidayat, sang kapten, sang 24, sang Bandiera.

Foto: Pikiran Rakyat