Seri Sejarah Viking: Herru Joko, Cinta, dan Persib

Seperti bobotoh pada umumnya, Ketua Viking Persib Club (VPC) atau kita biasa sebut Raja Viking, Herru Joko mengawali kecintaannya atas Persib secara kultural. Herru dibesarkan di lingkungan Cibangkong yang berhati biru. Bahkan seluruh aspek hidupnya beririsan dengan sepakbola, beririsan dengan Persib. 

Kecintaan Kultural dan Literasi

Kawasan Cibangkong, tempat dibesarkannya Herru Joko, kultur sepakbola sangat kuat. Daerah Cibangkong, Gatot Subroto Bandung, memang secara geografis dekat dengan stadion Sidolig, stadion Persib Bandung. 

Bagi warga Cibangkong, kalau tidak nonton band (karena dekat ke Saparua), maka nonton kompetisi sepakbola.  Keduanya sangat lekat di Herru Joko. Nonton Cockpit, Rollies, terutama Rock, pecinta Rolling Stones. Selepas kegiatan itu, malam di Cibangkong selalu ada silat. Pemuda-pemuda Cibangkong sudah terlatih silat atas budaya tersebut. Dua latar belakang itu yang melekat padanya di masa-masa remajanya nanti: rock n roll dan bela diri.

Herru yang mencintai Persib karena turun temurun memperkuat pemahamannya dengan sepakbola saat sering main ke toko/peminjaman buku Indira, Braga. Selepas sekolah, begitu rajin ia berkunjung ke sana, membaca komik sepakbola, kalau kawan-kawan sepermainan begitu menyukai buku-buku serius soal sepakbola, Herru mengenal berbagai aturan dan seluk beluk sepakbola dari komik itu. Kecintaannya meluap-luap kepada Sepakbola.

Cikal Bakal Sang Inisiator

Namun sayang sekali, saat SMP Herru tidak bisa masuk turnamen Domba Cup (turnamen amatir saat itu) disebabkan tinggi badan Herru tidak mencukupi. Minimal tinggi badan untuk berpartisipasi dalam turnamen tersebut adalah min. 145cm, sedangkan Herru tak bisa memenuhi kriteria itu. Akhirnya ia menjadi manajer. 

Herru mendapat ilmu lebih saat masa SMA. Pemain Persib dan atlet-atlet bersekolah di tempat yang sama di tempat Herru Joko bersekolah, di SMA Taman Siswa.  Karena di sana adalah tempat berkumpulnya para atlet, Herru diminta untuk mengorganisir supporter, itu semua karena dia aktif dan heboh. Di sanalah cikal bakal Herru menjadi penghimpun supporter. Bahkan Kepala Sekolah menempatkan Herru sejajar dengan atlet-atlet yang bersekolah di sana. 

Semakin dekat dengan dunia kelompok Suporter, Herrupun menginisiasi Cibangkong Fans Club. Kelompok bobotoh yang berasal dari Cibangkong. Kelompok ini akan berombong untuk masuk stadion, menonton Persib.

Masa Kuliah dan Cita-Cita

Di SD Impres Herru belajar nasionalisme, di SMP 3 Herru belajar mencintai Bandung, di SMA Taman Siswa Herru belajar mencintai kolektif. Dan saat kuliah IKOPIN, Herru belajar mencintai ekonomi rakyat. Dan di kehidupan Herru terus belajar mencintai Persib. 

Sebenarnya, bukan Persiblah tujuan utama Herru. Dia dulu bercita-cita menjadi ABRI, bahkan sempat mengikuti tes AKABRI. Herru tidak merokok karena tes ABRI, diapun membiasakan hidup sehat dengan sering berlari. Orang bilang fisik harus kuat untuk menjadi ABRI, tetapi sayang sekali Herru gagal masuk di sana.

Namun Herru punya opsi: Kalau tidak ABRI, ya jadi Seniman! Dia daftar ke seni rupa ITB, tetapi saat dilaksanakan tes, Herru tertawa lepas saat melihat soal yang bunyinya kurang lebih begini: Kamu adalah seekor tikus yang terjebak dalam sebuah lemari, silakan gambar!

Sempat frustasi, akhirnya Herru mencoba masuk tes kuliah. Dia dinyatakan lulus untuk masuk di UNWIM Tanjungsari jurusan Pertanian. Saat berangkat bersama ibu dan pamannya, ibu menimpali jauh-jauh teuing sakola teh, geus we ereun di dieu. (Jauh-jauh sekali sekolahnya, berhenti saja sudah d sini).

Kebetulan bus baru sampai di daerah Jatinangor, depan kampus IKOPIN. Lalu Ibunya mendaftarkan Herru untuk bersekolah di sana. Herru belajar komunikasi bisnis, mendapat pula ilmu koperasi dan pengorganisasian. Walau sebenarnya yang paling banyak ia dapat adalah ilmu Persib. Bahkan lulusnya Herru Joko setelah 9 tahun berkuliah pun karena Persib.

Herru lulus dengan pembimbing Eks-Pemain Persib dan dosen yang sama penggila Persib. Kenapa demikian? Nama Herru sudah terkenal karena masuk koran. Kampus senang sekali dengan mahasiswanya yang sangat membela Persib, walaupun kasusnya berupa kenakalan. 

Perkelahian di Menteng judulnya.  Herru tertangkap saat itu dan masuk koran. Sebelum The Jak terbentuk. Herru datang berkelompok bersama rombongan Cibangkong, uniknya pada saat itu datangnya bobotoh dalam pertandingan tandang selalu berbasis kedaerahan. Satu hal yang diterobos dengan adanya Viking. Batas-batas kedaerahan Bersatu dalam identitas persaudaraan pendukung Persib.

Pada fase itu kecintaan Persib sudahlah memuncak di dada Herru Joko muda. Namun yang sangat membekas dalam dirinya bahwa saha wae ge dulur ai geus Persib mah, atau siapapun bisa bersaudara dengan bendera Persib.