Menilik Lebih Jauh Persahabatan Viking Bonek

vikingpersib.net—Kita tak lagi asing ketika mendengar Viking dan Bonek. Keduanya merupakan suporter klub Persib Bandung dan Persebaya Surabaya. Rasa cinta mereka kepada sepakbola tak perlu diragukan. Sepak bola sudah menjadi napas, darah, dan air mata.

Sejatinya Persib Bandung dan Persebaya Surabaya merupakan rival. Gesekan di antara keduanya muncul sejak zaman perserikatan, sejak keduanya mulai berebut takhta tertinggi sepak bola Indonesia kala itu. Akan tetapi rivalitas antarklub yang terjadi seakan tak berlaku bagi Viking dan Bonek.

Bonek merupakan sebutan bagi pendukung fanatik Persebaya Surabaya. Istilah Bonek sendiri diambil dari frasa bondo nekat (modal nekat). Hanya bermodalkan nekat, suporter fanatik Persebaya Surabaya itu rela mendukung tim kesayangannya di manapun mereka berada.

Sementara itu pemilihan nama Viking sendiri diyakini berasal dari spirit yang dimiliki bangsa Viking di Skandinavia. Mereka dikenal loyal, penuh semangat, dan militan. Semangat bangsa Viking itu yang melesap ke dalam jiwa setiap pendukung Persib Bandung.

Tak Hanya Senasib, Viking Bonek Saling Respect

Jika menilik beberapa pemberitaan di media massa, Viking dan Bonek kerap kali diidentikkan dengan kerusuhan. Di mana ada Viking atau Bonek, di sana ada kerusuhan yang terjadi. Pemberitaan miring itulah yang membuat citra Viking dan Bonek tercoreng.

Bisa dikatakan Viking dan Bonek memiliki nasib yang sama. Perasaan senasib itulah yang merekatkan hubungan mereka. Persaudaraan itu makin erat dengan diadakannya ikrar damai antar suporter pada tahun 2003.

Selaras dengan kisah itu, Cak Tessy, salah satu Bonek, membagikan kisah perdamaian Viking dan Bonek. Dalam kisahnya, Heru Joko bersama jajaran Viking menyambangi Surabaya. Saat itu Heru Joko mengajak anak Viking yang ‘berani’ bertandang ke Surabaya. Perjalanan itu akhirnya diikuti oleh 50 orang anggota Viking.

Cak Tessy dan jajarannya telah bersiap untuk menyambut barudak Viking di Stasiun Gubeng. Dalam sekejap, Stasiun Gubeng berubah menjadi lautan hijau. Sambutan itu direspons baik oleh barudak Viking. Mereka semua berangkat bersama ke Yayasan Suporter Surabaya (YSS).

Sebagian barudak Viking menginap di YSS, sebagian lainnya mencari penginapan. Keesokan paginya, anak-anak Viking dan Bonek berangkat bersama ke Stadion Gelora 10 November di Tambak Sari. Cak Tessy mengawal barudak Viking di Tribun VIP.

Saat itu masih banyak teror dari kanan kiri. Cacian dan umpatan silih berganti. Cak Tessy memasang badan, menghalau berbagai ungkapan bernada sinis yang diarahkan kepada barudak Viking. Hingga pertandingan selesai, anggota Viking berhasil kembali ke YSS dengan selamat.

Cak Tessy mengakui, perselisihan antara Bobotoh dengan Bonek sempat terjadi. Akan tetapi ia tidak menutup hati, ia menginginkan perdamaian antara Viking dan Bonek terjadi. Malam selepas pertandingan, Viking dan Bonek bercerita banyak hal tentang perdamaian. Selepas lawatan itu, 50 orang anggota Viking pulang ke Bandung dengan utuh, tanpa luka sedikitpun.

Begitu pun dengan kunjungan Bonek ke Bandung. Sambutan hangat diberikan barudak Viking saat Bonek datang ke Gurame. Anak-anak Bonek dikawal oleh barudak Viking hingga sampai ke Stadion Siliwangi. 

Saat naik ke tribun, ada beberapa bobotoh yang menyoraki Bonek. Bonek menyikapinya dengan bernyanyi. Viking Bonek sama saja~ nyanyian penuh semangat itu berhasil menghentikan sorak sorai dari bobotoh. Viking Bonek semua bernyanyi. 

Meski Persebaya saat itu menelan kekalahan, anak-anak Bonek tetap bernyanyi. Mendengar nyanyian itu barudak Viking menyerbu tribun Bonek. Bukan untuk tawuran, tetapi untuk bertukar kaos dan atribut Bonek lainnya. Penyerbuan itu berlanjut hingga Bonek tiba di Gurame. Sambil membawa atribut Viking, anak-anak Bonek pulang ke Surabaya dengan aman.

Persahabatan Cak Tessy dengan Ayi Beutik

Tak hanya sebatas persahabatan antar komunitas suporter, Cak Tessy memaparkan kedekatannya dengan Panglima Viking, alm. Ayi Beutik. Cak Tessy bertemu Ayi Beutik di Bandung, dalam pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta.

Saat itu Ayi Beutik dan Yana Bool belum tiba di tribun. Viking dan Bonek meminta Cak Tessy untuk naik dan memimpin nyanyian. Ia berhasil, satu tribun berisi Viking Bonek kompak bernyanyi. Terharu, ia lepas seluruh atributnya, mulai dari topi, syal, hingga kaos, kemudian melemparkannya ke tribun.

Saat Ayi Beutik dan Yana Bool datang, Cak Tessy dilarang turun dari tribun dan terus disuruh memimpin bernyanyi. Tetapi tiba-tiba hujan lebat datang. Cak Tessy yang tidak mengenakan kaos amat kedinginan. Ayi Beutik dengan seluruh rasa persaudaraannya memberikan sweater kepada Cak Tessy. Cak Tessy memimpin tribun untuk bernyanyi hingga akhir pertandingan.

Sepulang dari stadion, Cak Tessy mencuci sweater pinjaman dari Ayi Beutik untuk dikembalikan. Tetapi saat dikembalikan, Ayi Beutik menolaknya, dan memberikannya sebagai kenang-kenangan untuk Cak Tessy bawa pulang ke Surabaya. Setelah momen itu, Cak Tessy dan Ayi Beutik memiliki hubungan baik.

Hingga akhirnya pada 2014, Ayi Beutik meninggalkan kita semua, Cak Tessy pun merasa kehilangan yang amat berat. Sebelum meninggal, Ayi Beutik menitipkan keluarganya ke Cak Tessy. Ia pun memenuhi amanat itu, dan akhirnya menemui Mia Beutik. Tak hanya mengawal Viking Bonek, kini Cak Tessy mengawal keluarga Ayi Beutik, Panglima Viking paling berani.

Pada akhirnya, pertemuan-pertemuan Viking Bonek bukan hanya melahirkan persahabatan di lapangan. Lebih jauh dari itu, Viking Bonek menjadi keluarga, antara Bandung dan Surabaya.