Bergerak, Berjuang: Kisah Hidup Mia Sepeninggal Ayi Beutik

Malam Minggu, semestinya menjadi malam penuh hiburan. Seharusnya kafe-kafe dipenuhi orang, dipenuhi obrolan ringan tentang apa saja. Namun 2014 silam, jagat sepak bola Indonesia dihinggapi berita duka. 

Sabtu (9/8) itu, Ayi Beutik, panglima Viking Persib Club (VPC) meninggalkan kita semua. Duka tak hanya menyelimuti punggawa VPC, tetapi seluruh insan sepak bola Indonesia. Semua kalangan merasa kehilangan.

Berbicara kematian Ayi Beutik, maka kita tak hanya berbicara tentang kehilangan bobotoh nomor satu. Kita pun berbicara tentang kehilangan suami dan ayah. Ayi Beutik meninggalkan Mia Dasmawati (istri), Jayalah Persibku (anak pertama), dan Usab Perning (anak kedua).

Hidup Mia serasa berhenti sesaat. Duka mendalam kerap kali terasa, bahkan hingga enam tahun sepeninggal Ayi Beutik. Namun ia mesti bangkit.

“Kalau untuk sedih mah sampai sekarang juga masih. Terutama kalau lagi kesal, lagi capek, lagi banyak pikiran suka nangis sendiri,” ungkap Mia jujur.

Sepeninggal Ayi Beutik, Mia menjadi seorang single parent. Ia menafkahi kedua anaknya seorang diri, serta menjadi sosok ibu sekaligus ayah bagi kedua anaknya. Meski begitu, ia telah bersiap sebelumnya.

Tak disangka-sangka, sebelum meniggalkan Mia, Ayi Beutik telah mempersiapkan istrinya untuk bisa hidup mandiri. Beberapa bulan sebelum dipanggil Sang Pencipta, Ayi mengajarkan semuanya yang ia bisa.

“Beberapa bulan sebelum meninggal, memang almarhum itu mengajarkan saya untuk bisa mandiri. Sampai ngangkat galon saja ngajarin,” katanya. 

Tetapi bukan berarti Mia sudah sepenuhnya siap. Salah satu yang menggoyahkan hatinya adalah masalah perekonomian.

“Kalau dulu kan, ya untuk perekonomian bisa saling bantu. Kalau sekarang, kan berjuang sendiri. Tetapi, kalau saya berusaha tak menunjukkan kesedihan,” katanya.

Meski saat itu Mia sudah bekerja sebagai PNS guru sekolah dasar, uang yang dimiliki belum memenuhi kebutuhan. Hal itu wajar. Karena seiring berjalannya waktu, kebutuhan pun terus bertambah.

Akhirnya Mia memutuskan untuk memulai bisnis clothing dengan menggunakan nama suaminya, Beutik Company. Gagasan itu didukung penuh oleh keluarga serta kolega dekatnya. Selain itu, motivasinya bertambah ketika ada pesanan baju dari Viking Taiwan.

“Sebab, setelah beliau meninggal itu banyak sekali orang yang memproduksi baju beliau dan laku. Pada saat orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa,” ujar Mia.

Setelah itu, Mia yakin. Ia meminjam uang Rp. 10 juta dari koperasi tempatnya bekerja. Bisnis pun dimulai.

Selain memenuhi pesanan dari Viking Taiwan, Mia pun menerima pesanan daring. Semua pesanan dibuat dan dikemas di rumahnya. Saat Persib Bandung bertanding, ia mulai rutin berjualan di Stadion Si Jalak Harupat.

Bisnis berjalan, hidup berjalan. Setelah bisnisnya berkembang, Mia membuka toko di daerah Sederhana. Tahun 2017, tokonya mulai ramai dan harus pindah ke daerah Jl. Jawa.

Pada akhirnya, Ayi Beutik tidak pernah meninggalkan kita. Ia lekat, menyentuh urat nadi kita.